Miss Information
Tiada yang menjengkelkanku pada hari itu selain telat menghadiri pesta perkawinan salah seorang teman yang kukenal di LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) karena miss information. Begini selengkapnya.
Siang itu, sabtu 17 januari 2009. Sekitar jam 12 lebih seperempat, di tengah panasnya terik mentari dan debu yang beterbangan, aku meluncur dari ciputat menuju tempat pesta perkawinan di Kembangan Utara, jakarta barat.
Masih teringat telepon dari temanku seminggu sebelumnya memberitahukan pesta perkawinannya. Aku yang baru bangun tidur, nyawa belum kumpul, tidak sempat mendengar dengan teliti apa yang ia ucapkan mengiyakan saja untuk datang. Nah akhirnya pada harinya aku lupa tempatnya di daerah mana. Maka ku sms yang punya hajat untuk menanyakan rutenya lalu diberitahu oleh dia. Kemudian ku telepon temanku untuk menanyakan waktu pesta pernikahan namun tidak ada yang mengangkat. Praktis aku hanya mengandalkan ingatan dan dugaan tentang waktu pernikahannya.
Setelah bertanya sana-sini akhirnya sampailah kami di tempat kondangan yang masih dalam kompleks kantor walikota jakarta barat. di depan pintu masuk tertulis nama temanku yang sedang hajatan disitu lengkap dengan janur kuningnya. Maka tak salah lagi ini tempatnya
Biasanya kita tahu bahwa di tempat itu ada kondangan. Dari keramaiannya, dari berdirinya tenda, dari jejeran mobil atau motor yang sedang parkir, serta dari pak ogah dadakan yang memanfaatkan suasana untuk mengais lembaran Kapitan Pattimura. Namun entah mengapa suasana terasa sepi sekali pada saat aku memasuki halaman walikota jakbar. Seolah tidak ada yang hajatan disini.
Tidak ada orang yang berlalu lalang, tidak ada mobil dan motor yang berjejeran, tidak ada musik daerah yang biasanya mengalun pada acara hajatan.
Sepi, senyap, lenyap.
Kami berputar-putar di halaman gedung dan tak menemukan tanda-tanda ada hajatan hingga kami balik lagi ketempat satpam dan bertanya.
“dimana pak yang kondangan”
“oh itu dekat masjid” kata satpam
Dan benar saja. Setelah kami mendekat, kulihat senyum wajah temanku bersama keluarganya yang sedang duduk di teras masjid nampak kelelahan. Lebih dari 10 orang ada disitu. Dengan beberapa plastik besar makanan & minuman yang masih tersisa.
“apa ini, masa pengantin ada disini? mana ruang hajatannya? Mana pengantin prianya?” kataku dalam hati.
Aku mendekat. Temanku nampak semakin sumringah kemudian tertawa melihatku. Menakutkan.
kami jadi salah tingkah namun masih bisa menguasai diri dengan menggunakan ilmu psikologi (apa coba hubungannya). Demi menjaga privasi anggaplah temanku bernama dewi, bukan dewi sandra atau sandra dewi, tetapi dewi ajah. Ingat, penggunaan ajah disini bukan nama kepanjangan.
Kami bersalaman dengan dewi dan keluarga besarnya. dewi memperkenalkan suaminya yang ternyata duduk di sampingnya memakai kaos, celana bahan dan sendal jempit.
“ha!! Kostum pengantin prianya kaya gini, kaga ada yang lebih jelek?” kataku dalam hati.
Berbeda dengan temanku yang memakai jilbab berwarna coklat dengan lilitan pita berbentuk kembang di sampingnya. Pakaian yang dipakainya adalah baju kebaya berwarna hijau dan kain kebaya berwarna coklat. serta memakai sepatu sandal yang tinggi haknya. Seolah temanku tahu apa yang ada di dalam pikiranku ia berkata
“dia udah ganti baju kok”
Ajaib, temanku bisa membaca pikiranku, sudah menjadi paranormal rupanya dewi. seperti mama laurent atau ki joko bodo.
Tidak ada bangku tidak ada kursi. Kami duduk di pelataran masjid sejajar dengan si pengantin tanpa beralaskan kasur (ya iyalah emang mau tidur). Awalnya kaku. Aku merasa temanku malu padaku entah mengapa.
untuk mencairkan suasana kubuka obrolan kami dengan membaca basmalah & surat alfatihah (sukuran kali).
Aku :“duh maaf ya dew, telat datangnya”
Dewi : “oh gapapa rif, santai aja. Emang kenapa bisa telat?”
Aku : “ya itu dia dew, gw lupa jam berapa selesai hajatannya. Waktu gw nelp lo buat nanyaan itu, kaga ada yang ngangkat”
Dewi : “emang jam berapa lo nelponnya?”
Aku : “sekitar jam setengah10an deh, kalo ga salah (berarti bener)”
Dewi : “oh jam segitu, tuh HP lagi dipegang ade gw. Jam segitu kan gw lagi siap-siap akd nikah. Lagi sibuk kali dia”
Aku : pemirsa. Demikianlah wawancara kami yang singkat dengan sang pengantin. Dari walikota jakbar, Arif Riyadi melaporkan” (kaga nyambung).
Perlu diketahui bahwa pesta pernikahan hanya berlansung 2 jam. Dari jam 11.00 sampai jam 13.00 pada hari sabtu. Aku yang datang jam dua siang tentunya telat satu jam. Dan hebatnya bukan hanya aku yang datang telat ada juga yang lain.
Cukup lama kami mengobrol. Lalu topik obrolan kami beralih pada suami dewi yang sepertinya wajahnya tak asing bagiku. aku pernah melihatnya namun lupa dimana.
Aku : “kaya pernah ngeliat deh”
Suami dewi : “masa, dimana??”
Aku : dimana ya? Kayanya di LP3ES deh.
Suami dewi : ah. LP3ES apaan tuh? Baru denger?
Aku : masa sih ga tau. Perasaan orang LP3ES deh.
Suami dewi : apaan ya LP3ES.
Suasana obrolan jadi kaku & membuat bulu kuduk merinding. aku bersikukuh merasa melihat suami dewi di situ. Namun ucapan dewi membuyarkan kekakuan kami
“Rif, dia itu emang di LP3ES. Waktu workshop kan ketemu?”
Aku : “Tuh kan Bener”.
Suami dewi cengengesan tanpa merasa berdosa karena telah membuat pembicaraan menjadi tidak menyenangkan dan ga nyambung.
“ada aja orang kaya gini. Ngaku ke’ dari pertama” gerutuku dalam hati.
Kudoakan kelakuan suaminya bisa berubah, ga jayus lagi seperti ini.
Akhirnya kami pamit pulang. Saat bersalaman ku doakan dewi. “mudah-mudahan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Di berikan kebahagiaan dalam menjalankan biduk rumah tangga. Di mudahkan rezekinya, di berikan keturunan yang sholeh. “amin” jawab keluarganya serempak. (kaya khotbah penghulu perkawinan)
Setelah bersalaman dengan semua yang ada disitu kami pun pulang. Dan perlu diketahui, kami tidak disediakan makanan & minuman padahal kami ngobrol sampe setengah jam. ironis.
kalian pernah ga mengalami situasi seperti ini??














